Beberapa hari ini saya dipusingkan dengan kata Adil. Iya, Adil. Yang katanya Adil itu bukan berarti sama rata. Tapi sesuai kebutuhan. Masalah keadilan ini pelik. Karena dia menjadi sebab terbesar kericuhan. Ada yang protes dan berontak, sehingga terlahirlah demo. Baik demo besar-besaran di jalanan, atau yang hanya ngedumel dihati aja sampe menyemakkan newsfeed facebook, timeline twitter atau laman sosial lainnya.
Ah, sudahlah kalo bersinggungan sama materi sih yah ga akan ada habis-habisnya. Mau gimana banyaknya masi aja rasanya kurang aja. Makanya disini saya bukan mau cerita tentang keadilan materi. Yang sampe sekarang saya belum paham, adalah keadilan sikap yang diambil ketika berhadapan dengan orang lain. Bingung saya. Adil sikap ini yang bagaimana.
Sebut saja, Andi. Mempunyai teman bernama Ani dan Rani. Sikap Andi kepada keduanya ini berbeda. Walo mereka bertiga adalah teman baik. Mulai dari cara bertutur, hingga cara bertingkah laku. Pada Rani, Andi terkesan lebih menjaga, dan lebih halus pekertinya daripada ketika berhubungan dengan Ani. Ya namanya perempuan yang katanya punya perasaan halus, merasakan perbedaan itu.
Sambil iseng dia bilang "deuh, kalo sama Rani ngomongnya halus. Baik. Kalo sama aku ndak..." It sounds like jealousy. Iya, ketidaksamaan dan ketidakadilan kan bisa memicu cemburu. Tau apa jawaban Andi?
Katanya "yaa, Rani itu klo saya liat orangnya rada melankolis. Harus diomongin secara halus. Maka nada suara juga mengikuti begitu. Sedangkan kamu kan orangnya bersemangat dan membara. Tidak masalah sepertinya kalau aku ngomongnya rada-rada kasar juga. Haha." Itu jawabnya.
Menurut Andi, dia sudah bersikap adil disini karena bersikap sesuai karakter dari objek.
*garuk-garuk kepala*
Kasus kedua. Ani punya seorang kakak laki-laki, sebut saja namanya Roni. Untuk segi akademis, sikap dan prilaku, Ani sama sekali tidak bermasalah. Berbeda dengan kakaknya. Segala usaha dilakukan oleh keluarga untuk memperbaiki sikap Roni ini. Karena memang orangnya rada sensitif, seluruh keluarga memilihkan cara terbaik menghadapi Roni ini. Mulai dari perhatian sepele seperti "sudah makan?" sampe "apa yang kamu lakukan hari ini?" Hingga memilihkan kata-kata berkonotasi paling tinggi untuk menasehati Roni jika dia sedang menciptakan masalah lagi. Tak ada yang memikirkan Ani yang menurut mereka sudah 'baik' dan berjalan tanpa masalah. Jangankan basa-basi nanya udah makan ato belum. Ani sendiri bingung yang perempuan ini siapa sebenarnya. Kenapa jika padanya sikap keluarga terkesan lebih kasar dan cuek. Berbeda dengan pada Roni.
Karena tidak menemukan jawabannya sendiri, Ani langsung bertanya "kok saya ga pernah ditanyain... Ga pernah dinasehatin.."
Pertanyaan ini dijawab "Kamu kan udah baik, harusnya kamu yang menasehati orang lain..." begitu. "Oh, jadi mesti bandel dulu ya? Biar bisa diperhatiin?" ternyata jawaban yang demikian bisa menghasilkan kesimpulan yang salah bagi Ani. #nahlooo
Lain waktu, Ani juga sempat protes "Yang perempuan itu Ani lho. Kok ya ngomong ke Ani lebih seperti tentara lagi ngomong sama anak buahnya, sedangkan pada Roni kebalikannya" Tanggapan dari kedua sikap itu apa? Tidak ada. Hanya senyum dan minta pengertian yang lebih saja.
Ada lagi?
Banyak.
Cuma males recall ingatan karena bikin pengertian adil itu tambah kabur di pikiran saya sendiri.
Jadi, bagaimana adil itu sebenarnya?
0 comments:
Post a Comment